Jangan Ngaku Goweser Kalau Belum ke Ciletuh

0

sebuah tagline iklan perjalanan bersepeda bulan ini yg bikin geger di grup sepeda. Tentu saja ada yg emosi karena dianggap bukan goweser kalau belum ke Ciletuh. Iklan yang berhasil ya seperti itu, bikin emosi sehingga nyantol di benak orang.

Padahal itu hanya tagline sebuah iklan, sama seperti benak kita yg sudah terpatri bahwa air mineral itu aqua, atau pasta gigi itu pepsodent, atau naik motor itu numpak honda. Keberhasilan sebuah iklan memang banyak diuntungkan dg penggunaan tagline yg tepat.

Meski bukan satu satunya jalur bersepeda yang waw, Geopark Ciletuh lumayan komplit dari sisi trek, pemandangan, perkampungan, hutan rakyat dan hutan alaminya serta juga unik budaya dan adat masyarakatnya. Geopark yang baru saja diakui dunia melalui badan Unesco PBB ini terbentang dari barat Pelabuhan Ratu hingga ke timur Pangandaran, Ciletuh sendiri adalah pusat pengembangannya dimana kalau kita mulai menyusuri dari arah Panenjoan akan lebih mudah mendapatkan informasi yang lengkap di museum geopark ciletuh. Jadi bisa dibayangkan lingkungan geografis yg kira kira membentang dari dekat Sawarna sampai Pangandaran itu seperti apa berikut cerita unik mengenai bentukan geologis kawasan tersebut. Sebuah fenomena alam Indoneaia yg luar biasa dasyat yg sudah diakui dunia, bukan soal goweasernya.

Jadi kalau mau ke Geopark Ciletuh mulailah dengan googling pengetahuan soal Geopark Ciletuh, beberapa situs resmi menjelaskan dengan gamblang, lalu kunjungi museum di Panenjoan sebagai pusat informasi yang lebih terpusat dan kamu bisa ketemu om om keren yang bisa lebih menjelaskan mengenai keajaiban dunia yang terjadi di kawasan ini berjuta abad yg lalu. Catat posisi posisi situs pentingnya yang layak dikunjungi agar pemahaman kita soal geopark jadi lebih baik. Panenjoan sendiri adalah lahan terbuka berupa bukit bertebing tinggi, sehingga dipilih untuk melihat secara luas sebagian kawasan Ciletuh, kurang lebih seperti gardu pandang di Selo boyolali atau gardu pandang di air terjun Sipiso piso Toba Jangan lupa ajak anak anak karena kawasan ini adalah media yang baik untuk pendidikan geologi yang unik dan langka.

Batu batuan ini bercerita banyak, sayang kalo kita lewati karena tidak sadar dengan pengetahuan alam di baliknya. Ini sungai Ciletuh, site pertama yang kita lewati saat menuju Panenjoan.

Disana itu lembah Ciletuh, sebuah kawasan terbuka yang seperti amblas di tepi bukit bukit yang mengelilinginya. Kawasan ini unik banget karena merupakan bentukan dasar laut yang naik ke permukaan, sama seperti yang terjadi di Pegunungan Everest di India sana.

Ujung Pantai Ujung Genteng, memang tidak semua sisi pantai selatan bisa dijangkau meski dengan berjalan kaki atau bersepeda. Ada beberapa kawasan hutan lindung yang tertutup, ada juga yang memang belum tersedia jalan penghubungnya.

Kalo sepedaan ke kawasan ini memang pasti puas dengan pemandangan yang beragam, hutan produksinya juga cukup rapi serta terjaga baik. Gak serem serem amat.

Yang ini jalur cikidang, kenyang pemandangan kebun sawit, dulunya sepi dan tenang karena tidak banyak kendaraan yang lewat. Sekarang mungkin sudah rame banget kendaraan bermotor karena banyak orang yang ingin lihat Ciletuh.

Dengan bentukan batuan bertingkat dan kawasan perbukitan seperti ini bisa kau bayangkan akan jadi berapa banyak air terjun di kawasan ini. Membentang dari Jampang, dari Sukabumi, dari gunung Salak, semua sungai yang ke pantai selatan membentuk banyak air terjun yang masih tersembunyi di balik hutan dan kebun atau sawah warga.

Di bawah air terjun yang sepi, banyak lokasi yang jauh dari jalan utama dan harus nembus sekitar 1km hingga 3km. Makin sepi makin asik tentunya, eh buat saya.

Ini lokasi air terjun yang belum ada aksesnya, mengunjunginya di musim yang berbeda bisa dapet pemandangan yang berbeda beda sesuai debit air sungainya di lokasi yang sama.

Kemping di Panenjoan, makin jarang space yang tersedia untuk buka tenda karena sudah mulai dipenuhi restoran dan villa. Ini ketinggian 300m dari lembah Ciletuh, viewnya dataran sawah membentang sejauh mata memandang, anginnya minta ampun dingin banget kalo malam. Elevasi sejarak 16km nanjak 300m, syahdu pokoknya men.

Hammocking di puncak Bunga, 1km dekat puncak Darma. Kalo mau kemari kudu ijin dengan Kang Ujang pemilik warung di air terjun Cimarinjung, beliau yang punya tanah disini. seharga steak abuba tapi jelas bikin kita jauh lebih sehat dengan bersepeda kemari.

Mendekati puncak cikidang mulai dapet pemandangan hutan alami, teduh dan sepi enak banget untuk nanjak.

Ini kawasan perkebunan PTP 8 , penghasil karet pilihan berkualitas premium. Kalo berminat lihat bagaimana pemrosesan karet alami silahkan belok jalan makadam di dekat jembatan Cikaso, masuk 3km hingga tiba di kawasan pemukiman PTP.

Pantai Ujung Genteng punya banyak site yg berbeda untuk dinikmati, katanya sih agak rawan karena masih terjadi beberapa pemalakan di sisi ujung ini yang sepi. Buka tendamu di kawasan yang lebih dekat dengan pemukiman warga desa, lebih aman dan bisa numpang toilet di rumah mereka.

Kalo mau kemping di air terjun cikaso usahakan tidak di musim hujan karena debit air bisa sewaktu waktu berbahaya, kalo pas musim kering bisa cukup dapet air yg lebih jernih. Sendirian lebih romantis karena kudu selalu siaga saat melewati malam, masih banyak biawak liar yang mendekati tenda. 

Di belakang tempat saya ambil foto ini rumah penduduk yang berkebun di sekitar air terjun ini. Sedang dibangun jalan paving 1m untuk menjangkaunya, pemandangannya jemuran kutang dan celana dalam. Sewaktu kutanya gimana rasanya tinggal disini, ‘ Biasa aja pak’ , si bapak jelasinnya datar aja sambil ngangkat pisang goreng dari wajan.

Turun dari puncak cikidang kudu ngademin betis yang ngebul, bukan karena nanjaknya tapi karena gemeter melibas turunan penuh tikungan tersembunyi. Cikidang memang asik buat bersepeda, makin sepi makin asik. Jangan lupa siapkan rem yang baik kalo lewat cikidang.

Pengin liat gigi hiu purba raksasa tertanam di dalam batu paras ? Datanglah ke Geopark Ciletuh.

penulis : Didot Edote

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here