Beribadah di Alam Bebas

0

Dalam berkegiatan di alam bebas yang memakan waktu perjalanan lama dan dengan segala keterbatasan, utamanya pendakian gunung, sering kali kita sulit untuk menjaga sholat. Lalu bagaimana seharusnya sikap seorang penggiat alam bebas muslim dalam menyikapi masalah ini?

Dalam berkegiatan di alam bebas, ibadah selama ini terkesan menjadi urusan pribadi. Maka tak jarang orang-orang yang dengan sengaja menangguhkan sholat saat beraktivitas di alam bebas. Namun juga tak sedikit yang berusaha untuk menegakkannya. Sebagaimana ungkapan terkenal kita di dunia petualangan, “Semua orang akan terlihat aslinya ketika di gunung.” Kondisi di gunung yang berbeda dengan kondisi di pemukiman atau perkotaan memberikan cobaan yang lebih keras pada kebutuhan dasar manusia, begitu pula dengan kebutuhan akan menghadap sang Ilahi ini. Benarlah jika kita menganggap bahwa dalam kegiatan mendaki gunung itu sebenarnya bukan gunung yang perlu ditaklukkan, melainkan ego kita sendiri.

Terlepas dari hal tersebut, seorang muslim hendaknya sadar dengan kebutuhan dan kewajibannya untuk beribadah. Meski ia berada di medan manapun dan pada kondisi apapun. Salah satu yang sering dikemukakan baik oleh para penggiat maupun pecinta alam adalah tujuan kegiatan mereka di alam bebas adalah untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan lebih memahami ciptaan-Nya. Untuk itu maka pantaslah jika kita kita tidak meninggalkan sholat saat mendaki, memanjat, menjelajah atau mengarung. Adapun dalam pendidikan dasar di OPA Ganendra Giri sendiri, kita mencontohkan dan mengajarkan untuk tidak meninggalkan sholat di setiap kegiatan kita, meskipun berada di kondisi yang serba sulit di tengah belantara. Berikut adalah beberapa tips untuk menjaga sholat kita saat berkegiatan di alam bebas.

Perjalanan Kita Sudah Tergolong Safar

Dalam pendapat beberapa ulama, safar tidak memiliki batasan jarak tertentu. Hal-hal yang membedakan safar dengan perjalanan biasa bisa terlihat dari beberapa indikasi, di antaranya adalah perlunya membawa bekal yang cukup, adanya hal-hal yang di persiapkan secara khusus sebelum keberangkatan, adanya kesulitan/kepayahan menempuh perjalanan yang tidak di dapati pada perjalanan biasa dan hal-hal lain semisalnya.

Berkaitan dengan hal ini, kita bisa melakukan qoshor dalam sholat kita saat melakukan perjalanan di alam bebas semacam. Qoshor adalah menyingkat jumlah rokaat sholat dari 4 menjadi 2 rokaat. Sesuai dengan sunnahnya, qoshor adalah keringanan yang khusus diberikan pada orang-orang yang sedang melakukan safar. Lantas, untuk masalah jamak maka dasar awalnya adalah sesuai dengan keadaan kita. Untuk kondisi di perjalanan yang tidak memungkinkan kita sering berhenti, maka kita bisa menjamak sholat dhuhur dengan ashar atau maghrib dengan isya. Namun jika kondisi kita sedang diam di camp maka lebih baik sholat itu tidak dijamak.

Pelajari lebih lanjut:

Berapakah Jarak Perjalanan Seorang Musafir yang Diperbolehkan Melakukan Qashor?

Kupas Tuntas Cara Shalat Ketika Bepergian (Safar)

Hukum Shalat Qashar Bagi Musafir

KESALAHAN-KESALAHAN KETIKA MENDAKI GUNUNG MENURUT SYARIAT

 

Tayammum Saat Persediaan Air Terbatas

Tidak jarang saat kita melakukan pendakian dan sebagainya, kita bertandang ke daerah yang sulit ditemukan aliran air atau bahkan tidak ada sumber air sama sekali. Sebagaimana kita ketahui bersama, persediaan air adalah esensial dalam perjalanan di alam bebas karena ia menyangkut hidup tim. Air yang dibawa sebagai bekal dari awal perjalanan kadang terbatas sesuai manajemen ekspedisi yang direncanakan karena air adalah beban terberat dalam packing, juga merupakan kebutuhan esensial untuk bertahan hidup.

Untuk itu, dalam masalah wudhu kita tidak perlu memaksakan diri jika memang tidak diketemukan sumber air di alam, karena Islam telah dirancang tidak untuk mempersulit kaum muslimin. Solusi dari hal ini adalah kita diperbolehkan bersuci dengan cara bertayammum, meskipun kita memiliki air karena air itu penting untuk mengolah makanan dan untuk minum. Sedangkan jika kita menemukan sungai dalam perjalanan kita, maka hendaknya kita bersuci dengan cara berwudhu sebelum kita melaksanakan sholat.

Pelajari lebih lanjut:

Bagaimana Cara Bertayammum Dalam Keadaan Sakit atau di Saat Berpergian (Safar)?

 

Wudhu dan Sholat dengan Tanpa Melepas Sepatu

Salah satu keringanan bagi musafir atau orang yang sedang safar adalah diperbolehkannya mengusap khuf (sepatu) sebagai ganti mengusap kaki saat wudhu. Kita tahu bahwa sepatu tracking yang tinggi hingga menutup mata kaki agak susah dilepas, sehingga jika kita hendak sholat di tengah perjalanan (misal kita hendak sholat jamak dhuhur dan ashar di tengah perjalanan) maka dalam berwudhu kita cukup mengusap bagian atas sepatu dan melanjutkan sholat tanpa melepas sepatu.

Syarat kita bisa menggantikan mencuci kaki dengan mengusap khuf pada wudhu ini adalah saat kita memakai sepatu kita harus dalam kondisi sudah berwudhu (suci dari hadats kecil). Dan untuk musafir, jangka diperbolehkannya tidak melepas sepatu sama sekali untuk mengusap khuf ini adalah 3 hari 3 malam terhitung dari pertama kali ia berwudhu dengan mengusap khuf.

Pelajari lebih lanjut:

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-mengusap-khuf-sepatu.html

http://kaumhawa.com/fikih-hukum-shalat-memakai-sepatu-sandal/

 

Tulisan ini bersumber pada : http://ganendragiri.web.id/studi-kasus/menjaga-sholat/?i=1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here