Selamat Tinggal Taman Nasional Tesso Nilo

0

Judul di atas mungkin bernada pesimistis, tetapi tepat untuk menggambarkan kondisi Taman Nasional Tesso Nilo saat ini. Masalah perambahan di kawasan konservasi gajah sumatera itu sudah tidak dapat ditoleransi. Hanya delapan tahun sejak penetapan pada 2009 seluas 83.000 hektar, vegetasi hutan alam yang tersisa sekarang ini 20.000 hektar. Artinya, hutan yang hilang telah mencapai 63.000 hektar.

”Saya masih ingat. Pada tahun 2004, ketika TNTN (Taman Nasional Tesso Nilo) diresmikan pemerintah, warga Dusun Toro Jaya hanya 10 keluarga atau sekitar 30 orang. Sekarang warga di sana sudah lebih dari 2.500 keluarga, atau sekitar 6.000 orang. Mereka perambah TNTN,” kata Hamencol (54), ninik mamak (pemuka adat) Desa Lubuk Kembang Bunga, di sela-sela perjalanan ke kawasan TNTN di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau, pekan lalu.

Gambar : Pembalakan Liar di Kawasan Konservasi Taman Nasional Tesso Nilo

Sesuai kesaksian Hamencol, dalam tempo 13 tahun telah terjadi penambahan jumlah penduduk 20.000 persen atau 200 kali lipat. Penambahan penduduk mencapai 460 orang per tahun. Jumlah itu fantastis mengingat jumlah penduduk asli Desa Lubuk Kembang yang menjadi induk Dusun Toro Jaya hanya 400 keluarga.

Perambah TNTN di Desa Lubuk Kembang Bunga bukan hanya di Dusun Toro Jaya. Masih ada 1.000 keluarga lain bermukim di Dusun Kuala Renangan. Dari dua dusun itu saja, perambah TNTN mencapai 3.500 keluarga.

Relokasi

Kepala Desa Lubuk Kembang Bunga Rozi Chairul Slamet mengungkapkan, luas wilayah Desa Lubuk Kembang Bunga mencapai 115.000 hektar. Adapun luas areal Dusun Toro Jaya dan Kuala Renangan mencapai 35.000 hektar yang seluruhnya berada di dalam kawasan TNTN.

Berarti, perambahan di dua dusun itu mencapai 55,5 persen dari perambahan total di TNTN. Apabila dibandingkan luas lahan dengan jumlah penduduk dua dusun tersebut, rata-rata keluarga perambah memiliki lahan seluas 10 hektar. Namun, menurut Rozi, lebih banyak warganya memiliki lahan di bawah 4 hektar.

”Sebanyak 80 persen warga saya di Toro Jaya adalah penduduk kategori miskin dan tertinggal. Mereka adalah korban. Mereka datang kemari dengan menjual seluruh harta benda di kampung mereka demi kehidupan yang lebih baik. Jangan salahkan masyarakat saya. Kalau dicari yang salah, pemerintah juga salah karena melakukan pembiaran. Saya lebih setuju pemerintah mencari solusi memperbaiki TNTN, tetapi masyarakat terlindungi,” kata Rozi.

Gambar : Bangkai Gajah di Kawasan Konservasi Taman Nasional Tesso Nilo

Tentang solusi terhadap perambah TNTN, menurut Taufiq Haryadi, Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah I Lubuk Kembang Bunga dari Balai TNTN, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sedang menjalankan rencana aksi merelokasi perambah TNTN. Para perambah bakal ditempatkan di lahan eks perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) PT Siak Raya Timber (PT SRT) dan PT Hutani Sola Lestari (PT HSL) yang sudah dicabut izinnya oleh pemerintah. Luas dua eks HPH itu mencapai 78.000 hektar.

Menurut Direktur Yayasan TNTN Yuliantoni, rencana awalnya, relokasi warga sudah dilakukan pada 2017. Namun, relokasi itu tertunda karena terdapat masalah besar di lapangan.

Lahan eks HPH PT SRT dan PT HSL yang disediakan untuk perambah TNTN justru sudah dipenuhi oleh perambah juga. Bahkan hampir 90 persen kawasan eks HPH tersebut sudah habis diokupasi untuk kebun kelapa sawit.

Kalau tidak ada solusi komprehensif, selain konsep revitalisasi yang diwacanakan, sebaiknya lupakan langkah penyelamatan TNTN. Sudah sangat bagus apabila pemerintah mampu mempertahankan areal tersisa 20.000 hektar saat ini. Fakta di lapangan, gempuran perambahan TNTN belum berhenti sampai hutan itu benar-benar habis.

Sumber : SYAHNAN RANGKUTI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here