Dari Penuh Emosi Hingga Pendewasaan Hati

0

Suatu hari pernah begitu emosi hingga tak kuasa berkata – kata, hanya diwakili oleh air mata. Akhirnya tersisa sesak di dada, atau kadang menjadi luka untuk waktu yang lama. Pernah pula begitu emosi, hingga terlontar kata –kata tak baik yang berujung menyakiti lawan bicara. Lepas. Lega. Puas rasanya. Tapi menggoreskan luka pada sesama. Akhirnya menyalahkan diri sebab hubungan menjadi canggung dan sulit menjadi biasa kembali. Ah, mengapa aku tak bisa menahan emosi? Memang benar adanya, lidah tidak bertulang. Tapi kata yang terucap mampu menusuk bak pedang. 

Pernah begitu putus asa tak ada teman berbagi cerita, hingga akhirnya tercetus ide menulis sebagai jadwal harian. Saat kata tak mampu terucap, malu rasanya saat lidah ingin berkeluh, atau ingin mencaci tapi terlalu takut melukai, maka menulis menjadi saluran pembuangan sejuta rasa yang aku alami.

Jauh sebelum mengenal menulis sebagai terapi, aku mulai membiasakan diri menulis ketika merasakan emosi yang sulit kukendali. Sedih, marah, dan bahagia adalah rasa yang mendominasi buku diari. Maka ketika ku baca kembali, di sana aku lihat perjalanan emosi. Beberapa tahun yang lalu, aku sibuk pergi bersama kawan hingga tak ada waktu untuk sekedar memberdayakan diri. Hari ini aku dapati pelajaran bahwa bermain – main selagi senggang adalah kesia – siaan. Beberapa tahun yang lalu, langit pernah runtuh di atas kepala. Kecewa mendalam sebab menaruh harapan pada manusia. Hari ini, aku baik – baik saja, dan telah ku dapati pelajaran berharga. Tempat terbaik untuk simpan harapan adalah padaNya. 

Beberapa tahun lalu aku pernah marah pada orangtua hanya karena mereka melarang ini dan itu. Hari ini, aku mengerti. Mereka terlalu sayang. Mungkin akupun akan begitu pada anakku nanti. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah meragukan pernikahan. Akankah selesai segala persoalan dengan bertemunya pasangan idaman? Hari ini aku paham bahwa persoalan hidup tidak lantas selesai dengan pernikahan, tapi setidaknya saat badai datang kita bisa bergenggam tangan saling menguatkan. 
Kudapati banyak emosi tertulis di sana. Marah, senang, sedih, kecewa dan banyak lagi. Saat membaca tulisan sedih atau kecewa, ah iya, memang benar kata pepatah, bahwa hanya waktu yang bisa sembuhkan luka. Kamu hanya perlu bersantai sejenak tak perlu terlalu dipikirkan apalagi berlarut – larut merana. Saat membaca tulisan bahagia hingga rasanya saat itu hidupku sempurna. Ah iya, ternyata bahagia pun hanya sementara. Tak perlu terlalu euforia. Sebab masalah – masalah berikutnya akan datang bergantian. Ah… bukan masalah hidup yang menjadi lebih mudah ternyata. Tetapi, hatiku yang telah menjadi lebih dewasa.

Ia mengerti bagaimana harus merespon kecewa. Ia mengerti bagaimana menentukan sikap saat bertemu sedih. Pun menjadi lebih bijaksana saat berhadapan dengan bahagia. Kemudian kututup buku diari. Lalu tersenyum geli. Dulu masalah yang kuanggap pelik, menjadi remeh sekali hari ini. Ya, ternyata seiring bertambah usia hatiku pun ikut beranjak dewasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here