Mengenal Bentang Lahan Banggai Kepulauan

0
195

Sulawesi punya keunikan sendiri yang berbeda dengan Sumatera dan Jawa, khususnya terkait iklim dan kondisi bentang lahan. Sumatera dan Jawa mengenal musim hujan dan musim kemarau yang cenderung basah, yaitu musim hujannya 6 bulan atau lebih. Sementara di Sulawesi, khususnya Sulawesi Tengah punya pola curah hujan yang cukup unik. Curah hujan di Palu sangat rendah sekitar 600 mm/tahun tapi merata pada seluruh bulan. Sementara di Kabupaten Banggai Kepulauan hanya mengenal musim hujan hanya pada bulan Juni, Juli dan Agustus. Selain itu bulan kering.

Lain lagi dengan bentang lahannya. Pelajaran geologi jaman kuliah diterangkan bahwa kondisi geologi pulau Sulawesi ini seperti handuk basah yang mau dikeringkan dengan cara dilipat dan diperas sana sini. Artinya di Sulawesi banyak proses geologi seperti pengangkatan, sesar, lipatan, dll yang cenderung tak beraturan (baca: sangat banyak). Polanya berbeda dengan di Sumatera dan Jawa yang ada penunjangan (subduction) di sisi luar dan barisan gunung api di tepi atau tengahnya dan pesisir bagian sisi dalam adalah kawasan sedimentasi dan muara banyak sungai.

Cerita geologi menarik ada di wilayah Kabupaten Banggai Kepulauan, karena bagian bawahnya adalah material kapur (karst) yang lembut dan menarik untuk bahan tambang. Sementara bagian atas perbukitan ada kawasan karst yang lebih baru masih seperti batu karang. Jadi ada dua proses pembentukan kapur di sini. Tentu kawasan ini sangat rentan terhadap kekeringan, karena sulit menyimpan air dalam waktu lama. Makanya ada beberapa fenomena danau kecil yang terisi air pada bulan-bulan tertentu kemudian mengering. Diduga pasokan air yang terbatas dari batuan induk yang porous ditampung dalam danau tersebut, tapi karena bagian dasar danau juga tidak 100% kedap air, maka perjalanan air merembes lagi ke bagian bawah dan atau pesisir.

Kerentanan kawasan karst ini mengharuskan bentang lahan selalu tertutup dengan vegetasi hutan. Pembukaan lahan untuk bercocok tanam tanaman semusim akan mengurangi daya simpan air tanah yang memang sudah rentan. Lebih parah lagi apabila kawasan ini dibiarkan untuk pertambangan kapur. Perlu dicatat bahwa lapisan tanah subur di permukaan sangat tipis beberapa centi meter saja. Dengan perubahan ke pola tanaman semusim saja sudah memicu erosi hebat, apalagi jika ditambang. Perlu dicatat pula bahwa pemulihan lahan (rehabilitasi) yang terlanjur rusak akan sangat sulit dilakukan karena umumnya sudah kehilangan lapisan tanah atas.

Untungnya kondisi sosial masyarakat di pedalaman masih dijaga ketat dengan adat istiadat, khususnya dari suku sea sea. Walaupun keyakinan agama mereka ada yang berbeda, tapi masih satu keyakinan urusan sosial budaya dan adat istiadatnya. Terutama dalam menjaga kelestarian atau konservasi kawasan lereng dan puncak perbukitan.  Bagian pesisir pun kita masih dimanjakan dengan air laut yang sangat bening dengan banyak ikan berenang sampai ke tepian, misalnya di pelabuhan Leme Leme. Hal yang sangat jarang kita temui di pesisir Jawa dan Sumatera. Kadang kita bisa melihat ombak mendadak besar di tepian, ternyata itu gerakan ikan besar yang sedang memburu ikan-ikan kecil. Jarak fenomena ini hanya 20 meteran dari tepi. Penduduk setempat memancing di tepi geladak kapal yang sedang parkir. Uniknya pancing tanpa umpan. Pancing ada 4 kail jadi satu, lalu dilemparkan ke kerumunan ikan kecil dan ditarik secepat kilat. Ikan yang didapat karena tertancap ke mata kail. Jadi bukan karena ikan yang memakan umpan di kail.

Kita perlu mendukung kebijakan pemerintah setempat dan masyarakat lokal yang berupaya melakukan konservasi tanah dan air serta flora-fauna (keanekaragaman hayati). Semoga tetap tegar melindungi dari penjarahan hutan dan penambangan kapur skala besar yang sangat merusak ekosistem.

Penulis : Ki Asmoro Jiwo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here