Potensi Lingkungan Banggai Kepulauan

0
275

Kata orang, hasil akan selaras dengan tingkat perjuangan. Perjalanan panjang nan jauh, dari Yogyakarta dengan kereta, lalu terbang ke Makassar lanjut Luwuk, ditambah naik kapal laut sekitar 4-5 jam menuju Banggai Kepulauan. Masih juga harus menyusuri jalur darat 3-4 jam dalam area yang sunyi senyap (baca: sering susah sinyal). Akhirnya kita bertemu potensi lingkungan alam yang sangat menakjubkan.

Perjalanan kali ini sangat menakjubkan, karena ditemani para pihak dan bertemu banyak tokoh kunci serta diterima dengan sangat bersemangat oleh komunitas masyarakat dari kelompok adat, pemerintah desa dan berbaur dalam suasana pesisir dengan laut yang sangat tenang dan eksotik.

Banggai Kepulauan terdiri dari beberapa pulau dengan susunan alami yang sangat indah. Awalnya membayangkan perjalanan kapal akan bertemu ombak di laut dalam sekitar pulau Sulawesi. Tapi ternyata jalur perjalanan menyusuri dari teluk ke teluk dengan ombak yang relatif tenang. Pulau yang terbesar ini dapat digambarkan secara sederhana sebagai sebuah kerucut yang terdiri dari batuan kapur yang masif, diduga terbentuk secara geologi di laut dalam. Kondisi kapurnya sangat mirip dengan lokasi Bedoyo Gunungkidul Yogyakarta. Bedanya bentukan kapur ini menjadi tubuh utama pulau dengan kelerengan umumnya sangat curam. Bagian dataran hanya tersisa di tepi pantai, Sehingga jalur jalan, permukiman dan pengembangan kota hanya di kawasan ini.

Gunung kapur ini mempunyai tanah hitam yang subur tetapi sangat tipis. Cerita masa lalu di sini banyak ditumbuhi pepohonan sangat besar. Tapi beberapa lokasi yang terdampak penebangan, membutuhkan waktu sangat lama untuk pemulihan (rehabilitasi lahan). Sifat batuan kapur yang mudah meloloskan air dan daya simpan air tanah rendah, membuat kawasan ini hanya layak dengan satu rekomendasi, yaitu menjadi kawasan lindung atau konservasi. Artinya di bagian lereng dan puncak-puncak bukit/gunung wajib dengan tutupan vegetasi yang sangat rapat, sehingga menambah kemampuan dalam menyimpan cadangan air tanah, mencegah erosi/longsor/kekeringan, dan menyediakan kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa.

Bagian daratan dipenuhi koleki bahan pangan dari aneka umbi-umbian. Bagian pantai dan lautan dipenuhi potensi ikan yang luar biasa. Sementara bagian gunung atau perbukitan perlu dikelola dengan tanaman tahunan dan menjadi habitat beberapa flora fauna langka. Sementara masyarakat masih sangat kuat menjaga adat istiadat dan seni budaya lokal dalam rangka melindungi lingkungannya.

Konon di bagian atas perbukitan/pegunungan masih menyimpan koleksi vegetasi, burung dan satwa langka. Bagian lahan sekitar permukiman masih sangat kaya dengan koleksi makanan khas lokal dari aneka umbi-umbian, pisang, dll. Jika kita ke pesisir pantai, hampir semua airnya sangat jernih dengan aneka ikan yang bisa dilihat dengan jelas.

Potensi alam, keanekaragaman hayati dan sosial budaya masyarakat ini diramu menjadi satu dalam gerakan bersama dalam melestarikan lingkungan. Masyarakat adat di Desa Leme Leme Darat Kecamatan Buko membentuk Taman Kehati Kokolomboi seluas 14 ha. Gerakan seperti ini perlu didukung dan direplikasi di berbagai tempat, khususnya di Kabupaten Banggai Kepulauan. Jika alam bisa dikelola dengan lingkungan yang tetap asri, maka pemanfaatan sumberdaya untuk kegiatan ekonomi dan sosial dapat dilakukan secara berkelanjutan dan lestari.

Penulis : Ki Asmoro Jiwo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here